Capacity Building TPID Se Wilayah Kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang

Malang – Bertempat di Hotel Aria Gajayana Malang pada hari Senin tanggal 4 Maret 2019 telah dilaksanakan Capacity Building TPID Se Wilayah Kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang.

Perkembangan inflasi Nasional menunjukkan tren penurunan dengan capaian yang cukup stabil. Demikian pula dengan inflasi Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang menggembirakan. Capaian inflasi (yoy) sepanjang tahun 2018 menunjukkan bahwa pengendalian inflasi terpadu di Jawa Timur berhasil mendorong inflasi Jawa Timur yang lebih rendah dibandingkan inflasi nasional. Hal tersebut turut didorong oleh capaian inflasi bulanan Jawa Timur yang relative lebih rendah dibandingkan nasional. Namun demikian, fluktuasi inflasi Jawa Timur yang sedikit lebih tinggi dibandingkan fluktuasi inflasi Nasional masih menjadi pekerjaan rumah yang harus kita atasi secara sinergi dan bersama-sama.
Untuk mencapai dan menjaga inflasi yang rendah dan stabil tersebut, memerlukan kerjasama dan koordinasi lintas instansi, yakni antara Bank Indonesia dengan Pemerintah.

Senada dengan hal itu, berbagai kebijakan yang akan ditempuh Bank Indonesia tentunya akan disinergikan dan dikoordinasikan dengan berbagai pemangku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah, agar terlaksana dengan efektif. Lebih lanjut, diperlukan juga suatu pengkinian program kerja bersama oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang dikembangkan dalam bentuk Capacity Building TPID se wilayah kerja Kantor Perwakilan BI Malang seperti yang telah terlaksana hari ini.

Pada kegiatan tersebut, hadir pula Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak; Walikota Malang, H. Sutiaji, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Difi Achmad Johansyah.

Menurut Walikota Sutiaji, Pemerintah Kota Malang selama ini terus berupaya mengawal pengendalian inflasi agar tetap rendah dan stabil. Upaya ini tidak lepas dari dukungan dan kerja sama Kantor Perwakilan Bank Indonesia melalui peran penting dalam forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah.

“Hal tersebut dapat kita lihat dari pencapaian inflasi di Kota Malang yang selama ini sudah sejalan dengan target sasaran nasional; sepanjang tahun 2018, inflasi Kota Malang tercatat sebesar 2,98% (yoy); Inflasi tersebut berada dibawah realisasi inflasi nasional sebesar 3,13% (yoy) dan dibawah sasaran target inflasi Nasional 3,5% plus minus 1%” ujar Sutiaji.

Saya selaku Ketua TPID Kota Malang, lanjut Sutiaji, sangat mengapresiasi upaya pengendalian inflasi melalui forum TPID Kota Malang yang merupakan hasil koordinasi dan kolaborasi antara Pemerintah Kota Malang dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, serta seluruh pemangku kepentingan terkait.

“Selama ini TPID Kota Malang selalu intens berkoordinasi mengendalikan resiko kenaikan harga baik yang disebabkan oleh shock (guncangan) kelangkaan ketersediaan pasokan barang/ komoditas, maupun resiko kenaikan harga dari sisi permintaan yang disebabkan oleh pola musiman seperti; lebaran, natal, dan libur tahun baru” tambahnya.

Perkembangan Inflasi Kota Malang hingga Februari 2019 tetap terkendali dan mendukung pencapaian sasaran inflasi 2019 sebesar 3,5%±1% (yoy). Berdasarkan rilis Inflasi BPS Kota Malang, pada Februari 2019 Kota Malang tercatat mengalami penurunan harga atau deflasi -0,42% (mtm) yang merupakan deflasi terdalam di Jawa Timur, berbeda dengan bulan sebelumnya pada Januari 2019 Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,53% (mtm) yang merupakan inflasi tertinggi di Jawa Timur. Inflasi Kota Malang secara tahunan hingga saat ini mencapai 2,21% (yoy), menurun dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,81% (yoy)

Pergerakan inflasi bulanan Kota Malang di awal tahun 2019 ini terlihat cenderung berfluktuasi. Adapun komoditas utama yang menjadi penyumbang penurunan harga di Kota Malang pada Februari 2019 antara lain disumbang oleh; penurunan tarif angkutan udara seiring telah berlalunya periode musim liburan, penurunan daging ayam ras dan telur ayam ras sejalan dengan penurunan harga pakan jagung sebagai komponen biaya utama bagi peternak, adapun penurunan cabai rawit dan cabai merah disebabkan oleh peningkatan pasokan seiring dimulainya masa panen cabai di beberapa sentra di wilayah Malang Raya dan Sekitarnya.

Sementara itu, Wagub Emil dalam arahannya menegaskan bahwa kita harus bisa menghadirkan negara di tengah-tengah masyarakat saat terjadi fluktuasi harga bahan pangan di pasaran.

“TPID juga harus bisa memberikan terobosan baru untuk dapat menangani hulu hilir permasalahan ketersediaan bahan pokok ini; komunikasi antar petani juga harus selalu difasilitasi oleh TPID, jangan sampai nanti terjadi over suplay di masyarakat” tutur Emil.

Wagub Emil juga berpesan agar pemerintah daerah terus memgoptimalkan APBD untuk penguatan infrastruktur dan pengendalian harga pangan; penguatan pertanian melalui agrobisnis; memperbaiki tata niaga distribusi pangan di daerah serta memperkuat pengawasan distribusi dan perdagangan pangan di daerah. (Ts)

Posted in: Berita Terbaru, Headline

Leave a Comment