JULI 2016, KOTA MALANG INFLASI 0,78 PERSEN

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Mulai Januari 2014, pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100. Ada beberapa perubahan yang mendasar dalam penghitungan IHK baru (2012=100) dibandingkan IHK lama (2007=100), khususnya mengenai cakupan kota, paket komoditas, dan diagram timbang. Perubahan tersebut didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.
SBH 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar lainnya. Dari 82 kota tersebut, 66 kota merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 merupakan kota baru. Survei ini hanya dilakukan di daerah perkotaan (urban area) dengan total sampel sebanyak 13.608 Blok Sensus dan total sampel rumahtangga sebanyak 136.080. SBH 2012 dilaksanakan secara triwulanan selama tahun 2012 sehingga setiap triwulan terdapat 34.020 sampel rumahtangga.
Paket komoditas kota Malang hasil SBH 2012 terdiri dari 372 komoditas meningkat dibandingkan dengan paket komoditas hasil SBH 2007 sebelumnya yaitu sebanyak 349 komoditas..
Berdasarkan hasil pemantauan BPS kota Malang pada Juli 2016 terjadi inflasi 0,78 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 124.17 pada Juni 2016 menjadi 125.14 pada Juli 2016. Tingkat inflasi tahun kalender sebesar 1.64 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2016 terhadap Juli 2015 ) sebesar 3.25 persen. Inflasi bulan Juli 2016 dipicu oleh beberapa komoditi, antara lain daging ayam ras, kontrak rumah, apel, angkutan udara, kentang, cebe merah, daging sapi, cabai rawit, tarip kereta api dan sawi hijau.. Komoditi bahan makanan mengalami kenaikan harga seiring dengan meningkatnya permintaan selama lebaran tahun ini.
Berita Resmi Statistik No.08 Th. XVII, 1 Agustus 2016
Komoditi yang meghambat inflasi di bulan Juni 2016 antara lain telur ayam ras, semen, melon, tomat sayur, besi beton, bawang putih, minyak goreng, nangka muda dan bandeng/ bolu.
Beberapa komoditas bahan makanan mengalami kenaikan harga karena masih tingginya permintaan di hari raya ini, antara lain meningkatnya permintaan terhadap komoditas daging ayam ras, kentang, cabe merah, daging sapi dan cabe rawit. Padatnya arus mudik lebaran juga menyebabkan tarip angkutan udara, kereta api, angkutan antar kota dan travel juga mengalami kenaikan.
Meningkatnya produksi semen nasional yang lebih tinggi dibandingkan permintaan pasar dan makin ketatnya persaingan industri semen, mengakibatkan turunnya harga semen di pasaran. Penyebab terjadinya inflasi bulan Juli 2016 adalah naiknya indeks harga konsumen pada lima kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok bahan makanan sebesar 1.95 persen diikuti kelompok sandang sebesar 1.50 persen, kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0.74 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,41 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,33 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,16 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,14 persen. sebagaimana terlihat pada tabel 1.

No

Kelompok komoditas yang memberikan andil/ sumbangan inflasi pada Juli 2016, yaitu: kelompok bahan makanan 0.3762 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0.0558 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar
0.1006 persen; kelompok sandang 0.0837 ; kelompok kesehatan 0.0073, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga, 0.0135 persen; dan kelompok transpor, komunikasi,dan jasa keuangan 0.1438 persen .

No

No

URAIAN MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN
1. Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan pada bulan Juli 2016 mengalami inflasi 1.95 persen atau terjadi kenaikan angka indeks dari 135.55 pada Juni 2016 menjadi 138.20 pada Juli 2016 .
Dari 11 sub kelompok dalam kelompok bahan makanan 8 sub kelompok mengalami inflasi dan 3 sub kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 6,82 persen diikuti sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 6.22 persen, sub kelompok buah-buahan sebesar 2.32 persen, sub kelompok sayur-sayuran sebesar 2.26 persen, sub kelompok ikan segar sebesar 2.16 persen, sub kelompok bahan makanan lainnya sebesar 1.18 persen, sub kelompok lemak dan minyak sebesar 1.16 persen , dan sub kelompok padi-padian umbi-umbian dan hasilnya sebesar 0.06 persen.
Sedangkan 3 sub kelompok yang mengalami deflasi adalah, sub kelompok telur susu dan hasil-hasilnya sebesar 2.18 persen diikuti sub kelompok kacang-kacangan sebesar 0.14 persen dan sub kelompok ikan diawetkan 0.04 persen.
Kelompok ini pada Juli 2016 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.3762 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain: daging ayam ras sebesar 0.1042 persen, apel sebesar 0.0825 persen, kentang sebesar 0.059 persen, cabai merah sebesar 0.0481 persen, bawang merah sebesar 0.0461 persen, daging sapi sebesar 0.046 persen, cabai rawit sebesar 0.0414 persen, kelapa sebesar 0.0206 persen, mujair sebesar 0.0187 persen, wortel sebesar 0.0163 persen, dll.
Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi antara lain : telur ayam ras sebesar 0.0517 persen, melon sebesar 0.0273 persen, tomat sayur sebesar 0.0237 persen, bawang putih sebesar 0.0084 persen, minyak goreng sebesar 0.0064 persen, nangka muda sebesar 0.0063 persen, bandeng/ bolu sebesar 0.0056 persen, sawi hijau sebesar 0,0051 persen. tongkol pindang sebesar 0.004 persen, ketela pohon sebesar 0.0034 persen, pir sebesar 0.0029 persen, dll.
Berita Resmi Statistik No.08 Th. XVII, 1 Agustus 2016
2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Kelompok ini pada Juli 2016 mengalami inflasi 0.33 persen atau terjadi kenaikan angka indeks dari 125.34 pada Juni 2016 menjadi 125.75 pada Juli 2016 .
Tiga sub kelompok yang ada dalam kelompok ini semua sub kelompok mengalami inflasi. Inflasi terjadi pada sub kelompok makanan jadi sebesar 0.38 persen diikuti sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol sebesar 0.27 persen dan sub kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 0.24 persen.
Kelompok ini pada Juli 2016 secara keseluruhan memberikan sumbangan inflasi terbesar sebesar 0.0558 persen.
Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain : rawon sebesar 0.345 persen, gula pasir sebesar 0.0063 persen, rokok putih sebesar 0.0043 persen, rokok kretek sebesar 0.0037 persen, air kemasan sebesar 0.0021 persen, kue kering sebesar 0.0015 persen, roti tawar sebesar 0.0012 persen, keripik sebesar 0.0009 persen , wafer sebesar 0.0008 persen, kembang gula sebesar 0.0006 persen, dll.
Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi turunnya harga biskuit dan sirop sebesar 0.001 dan 0.0003 persen..
3. Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar
Kelompok ini pada Juli 2016 mengalami inflasi sebesar 0.41 persen, atau terjadi kenaikan angka indeks dari 117.12 pada bulan Juni 2016 menjadi 117.60 pada Juli 2016 .
Dari 4 sub kelompok dalam kelompok ini 3 sub kelompok mengalami inflasi, 1 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 1.03 persen , diikuti sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 0.40 persen dan sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air sebasar 0.25 persen, sedangkan sub kelompok perlengkapan rumah tangga tidak mengalami perubahan angka indeks.
Pada Juli 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.1006 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain adalah kontrak rumah sebesar 0.1011 persen, upah pembantu rumah tangga sebesar 0.0216
Berita Resmi Statistik No.08 Th. XVII, 1 Agustus 2016
persen, tarip listrik sebesar 0.0173 persen, sabun cream detergent sebesar 0.0013 persen, sabun cream bubuk/ cair sebesar 0.0013 persen,pengharum/ pelembut cucian sebesar 0.0004 persen, pembasmi nyamuk bakar sebesar 0.0003 persen, pembersih lantai dan tissu sebesar 0.0001 persen, dll.
Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi adalah turunnya indeks harga semen 0.0303 persen dan besi beton sebesar 0.0124 persen..
4. Sandang
Kelompok sandang pada Juli 2016 mengalami inflasi 1.50 persen, atau terjadi kenaikan angka indeks dari 113,38 pada Juni 2016 menjadi 115.08 pada Juli 2016.
Dari 4 sub kelompok dalam kelompok ini, semua sub kelompok mengalami inflasi. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok barang pribadi dan sandang lain sebesar 2.43 persen diikuti sub kelompok sandang laki-laki sebesar 1.60 persen , dan sub kelompok sandang anak-anak sebesar 1.02 persen dan sub kelompok sandang wanita sebesar 0.96 persen..
Pada Juli 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.0837 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah naiknya indeks harga emas perhiasan sebesar 0.0344 persen, pampers sebesar 0.0119 persen, baju kaos berkerah sebesar 0.0089 persen, celana panjang jeans sebesar 0.0053 persen, baju muslim sebesar 0.0049 persen, sandal kulit sebesar 0.0041 persen, jam tangan sebesar 0.0007 persen, kemeja pendek katun sebesar 0.0005 persen, dll.
Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi tidak ada.
5. Kesehatan
Kelompok kesehatan pada Juli 2016 mengalami inflasi 0.16 persen, atau mengalami kenaikan angka indeks 114.67 pada bulan Juni 2016 menjadi 114.85 pada Juli 2016 .
Berita Resmi Statistik No.08 Th. XVII, 1 Agustus 2016
Dari 4 sub kelompok 3 sub kelompok mengalami inflasi dan 1 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok obat obatan sebesar 0.32 persen diikuti sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika sebesar 0.17 persen , sub kelompok jasa kesehatan sebesar 0.10 persen, sedangkan sub kelompok jasa perawatan jasmani tidak mengalami perubahan angka indeks.
Pada Juli 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.0073 persen. Sedangkan komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah naiknya indeks harga ongkos bidan sebesar 0.0018 persen, sabun wajah sebesar 0.0017 persen, kaca mata plus & minus sebesar 0.0017 persen, jamu sebesar 0.0011 persen, alas bedak 0.0005 persen, sikat gigi sebesar 0.0004 persen, obat batuk sebesar 0.0003 persen, sabun mandi sebesar 0.0001 persen, dll
Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi tidak ada.
6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada Juli 2016 mengalami inflasi sebesar 0.14 persen atau mengalami kenaikan angka indeks dari 118.41 pada Juni 2016 menjadi 118.58 pada Juli 2016.
Dari 5 sub kelompok , 2 sub kelompok mengalami inflasi, dan 3 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok kursus-kursus / pelatihan sebesar 0.62 persen, dan sub kelompok perlengkapan / peralatan pendidikan sebesar 0.61 persen sedangkan sub kelompok rekreasi , sub kelompok olah raga dan, sub kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan angka indeks.
Pada Juli 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.0135 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi adalah naiknya tas sekolah sebesar 0.0088 persen, indeks harga bimbingan belajar sebesar 0.0043 persen, buku tulis bergaris sebesar 0.0003 persen, pensil hitam sebesar 0.0002 persen, dll.
Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi tidak ada.
Berita Resmi Statistik No.08 Th. XVII, 1 Agustus 2016
7. Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan
Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada Juli 2016 mengalami inflasi 0.74 persen atau terjadi kenaikan angka indeks dari 131.55 pada Juni 2016 menjadi 132.52 pada Juli 2016.
Dari 4 sub kelompok dalam kelompok ini 1 sub kelompok mengalami inflasi , dan 3 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Yang mengalami inflasi adalah sub kelompok transport sebesar 1.05 persen.
Sedangkan sub kelompok Sarana dan Penunjang transpor , sub kelompok komunikasi dan pengiriman dan sub kelompok jasa keuangan tidak mengalami perubahan angka indeks.
Secara keseluruhan kelompok ini pada Juli 2016 memberikan sumbangan inflasi 0.1438 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah naiknya indeks harga angkutan udara sebesar 0.0724 persen, tarip kereta api sebesar 0.0399 persen, angkutan antar kota sebesar 0.0126 persen, tarip kendaraan travel sebesar 0.0106 persen, mobil sebesar 0.0083 persen.
Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi tidak ada.

Posted in: Berita Terbaru, Dokumentasi, Headline

Leave a Comment