Ngantor Sutiaji di Wilayah Wajah Depan, Wajah Belakang Harus Sama Bersihnya

Ngantor kali ke – 2 Walikota Malang Sutiaji di kecamatan/kelurahan, menyasar wilayah kecamatan Lowokwaru (14/1 ’20). Dengan mengambil titik himpun di kantor kecamatan Lowokwaru, Sutiaji menegaskan penataan personil dan kelembagaan diletakkan pada spirit memajukan organisasi. “Tentu dilihat pula rekam jejak dari masing masing personil. Tidak ada yang namanya like dan dislike, dan yang nama proses, tidak mungkin dapat memuaskan semua pihak. Maka saya tekankan kepada jajaran ASN Pemkot Malang untuk menyesuaikan dan mengikuti proses terlebih dahulu. Terima apa adanya dulu. Jangan mengeluh. Pasti akan ada evaluasi, “tegas Pak Aji kepada Camat, jajaran Lurah, pejabat struktural kecamatan serta staf kecamatan Lowokwaru.
Seperti halnya saat ngantor di kelurahan Cemorokandang, kecamatan Kedungkandang (senin, 13/1 ’20 kemarin), Walikota penghobby bulu tangkis ini kembali menyoroti kebersihan lingkungan kantor, manajemen ruang pelayanan, front office hingga telecentre yang dikelola kecamatan.
“Wajah depan kantor (kecamatan Lowokwaru) bersih. Tapi ini ada lahan agak tersembunyi di antara gedung kantor nampak kumuh. Nggak boleh seperti ini, yang namanya kebersihan itu bersifat paripurna, secara menyeluruh. Wajah depan dan wajah belakang semuanya harus bersih, “pesan Walikota penyuka kuliner super pedas ini kepada Camat Lowokwaru Imam Badar.
Kepada perangkat wilayah (kecamatan Lowokwaru), Sutiaji juga menekankan pentingnya memiliki data base potensi wilayah. “Harus pegang titik nol (awal) bekerja dan bergerak. Semisal, per akhir desember 2019, terdeteksi angka kematian ibu hamil di Lowokwaru sebanyak 5 orang. Maka dari angka (titik) dimaksud, jadi perencanaan target program penurunannya, tentu dengan variabel permasalahannya, “tukas pasangan Wawali Sofyan Edi tersebut. Artinya harus ada up dating profil data kelurahan. Imbuhnya
Secara khusus, Walikota Sutiaji memerintahkan Lurah untuk membuat, memegang dan memiliki data peta drainase, data perempatan/persimpangan, serta data jalan rusak. Data ini akan saya tagih perkembangannya. Ingat Walikota, yang datang ke kecamatan dengan bersepeda motor.
Usai berkantor di kecamatan, Sutiaji menengok layanan Puskesmas Kendalsari. Pada puskesmas yang memiliki ruang rawat inap tersebut, terpotret dalam satu hari rata rata menerima 120 permohonan layanan.
“Ini termasuk tinggi tingkat layanannya. Sayangnya tadi saat saya konfirm, dokter umumnya hanya 2 (dua) orang. Sementara kebutuhannya setidaknya 5 (lima) dokter umum. Penjelasan dari Kepala Puskesmas, sesungguhnya sudah memiliki 4 (empat) dokter umum. Karena yang 2 (dua) mengajukan cuti diluar tanggungan negara dan sedang mengikuti pendidikan, sehingga kini tinggal memiliki 2 (dua) dokter umum, “urai Pak Aji.
Melayani 3 (tiga) kelurahan, yakni kelurahan Lowokwaru, kelurahan Tulusrejo dan kelurahan Jatimulyo, Puskesmas Kendalsari juga telah didukung layanan kegawat daruratan. Satu hal yang juga sempat dikritisi Walikota Sutiaji terkait angka stunting yang termonitor oleh wilayah kerja puskesmas Kendalsari, yang dinilai masih tinggi, yakni pada kisaran angka 23 – 30 kasus stunting. “Karena kepala Puskesmas menginformasikan sedikit ada keraguan, tetap saya minta verifikasi kembali datanya dan harus terkonek juga ke data wilayah. Harus absolut datanya, karena kita juga lagi menangani masalah stunting, “tegas Ustadz Sutiaji, demikian kadang Walikota Malang akrab disapa warganya.
Agenda lain dari ngantor Walikota di wilayah adalah menyapa Ketua RW Ketua RW. Kali ini yang berkesempatan bercengkerama dengan Walikota Sutiaji adalah para Ketua RW Kelurahan Tulusrejo. Dengan didampingi Lurah Tulusrejo, Nina Sudiarty, Walikota Malang mendapatkan informasi bahwa satu satunya kelurahan yang memiliki alat monitor perubahan cuaca dan dikelola oleh komunitas RW adalah Kelurahan Tulusrejo. Alat yang dinamakan dengan Automatic Range Change, juga menjadi andalan kelurahan ini sebagai Kelurahan Tangguh Bencana serta sering dijadikan jujugan kunjungan tamu studi banding.
Kepada jajaran Ketua RW Tulusrejo, Sutiaji juga meminta kesanggupan salah satu RW untuk menjadi pilot proyek Gerakan Seribu Rupiah (Gerbu) di tingkat wilayah.

Posted in: Berita Terbaru, Dokumentasi, Headline

Leave a Comment