Gerakan Seribu Rupiah ala Sutiaji, Dorong Kesalehan Sosial

Prihatin dan trenyuh dirasakan Walikota Sutiaji. Kala mendengar curhatan dua ibu yang terjerat rentenir. “Pak Wali, kulo namung ngampil 200 ewuh, sak meniko manak sampun setunggal juta dan terus nambah (red. Pak Wali, saya cuma pinjam dua ratus ribu, sekarang pinjaman tersebut sudah bertambah menjadi satu juta dan terus bertambah), “tutur salah satu ibu tua yang bertepatan menerima bantuan dari Basnaz.

Dan masih banyak ibu ibu atau warga kota ini (Malang), yang terjerat “kejahatan” rentenir. “Iya saya lugaskan “kejahatan”, karena sifatnya mencengkik dan jauh dari azas membantu serta menolong. Ini harus dituntaskan dan tidak boleh dibiarkan, “tegas Sutiaji. Salah bila kita membiarkan ini terus terjadi. Imbuh Walikota yang tak ambil jarak dengan warganya tersebut. Dan kepada Baznas Kota Malang, Sutiaji langsung memerintahkan untuk menyelesaikan semua tanggungan 2 (dua) ibu yang “curhat” tersebut.

Atas situasi tersebut, yang terdekat Walikota Sutiaji menginstruksi “Gerakan Santunan (Shodaqoh) Seribu Rupiah”. Sementara di lingkungan ASN Pemkot Malang dulu. Untuk dikoordinir dan dikendalikan Pak Sekda langsung. Kita ada sekitar 7.300 ASN, sehari bisa terhimpun 7.300.000, dan sebulan untuk hitungan 25 hari kerja akan terhimpun Rp 182.500.000 dan setahun terakumulasi Rp. 2.190.000.000, “tutur Walikota Sutiaji yang memang sering mengeluarkan ide ide kreatif.

Kelihatannya sederhana, tapi pasti akan ada saja komentar “macam macam saja” atau bukan solusi tuntas, tapi Walikota Sutiaji menegaskan harus mulai ada langkah dan niat baik jangan ditunda. Bahkan agama juga mendorong kesalehan sosial (shodaqoh) sebagai solusi ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

Dengan nada guyon, Walikota Sutiaji menambahkan, kalau perlu saya bersama Wawali dan Sekda bawa kotak amal dari satu OPD ke OPD lainnya. Untuk transparansi penggunaan akan dilewatkan Baznas dan akan ada audit berkala. Jadi mengapa harus menunggu dan di tunda ?

Posted in: Berita Terbaru, Headline

Leave a Comment