Jagongan Ala Sutiaji, Sambil Ngopi Santai

Kaget sekaligus “sumringah” (gembira) terpotret di wajah Satya Sandida, saat disapa dan diajak ngobrol Walikota Sutiaji. “Ya nggak nyangka saja, tiba tiba ada seorang laki laki, hanya berkaos santai, dan tibak e (red. ternyata) bapak e (walikota) warga Malang. Pasti bangga, apalagi diajak ngobrol lumayan lama, “ujar Satya, pemilik Nomaden Coffe Shop di jalan Tawangmangu Lowokwaru, Malang (sabtu sore, 20/10 ’18).
Bukan sekali dua kali, Sutiaji melakukan jagongan tiba tiba dan melakukan obrolan dengan warga secara informal, diluar jadwal kedinasan yang sudah ada. “Saya ingin tahu secara langsung detak dan dinamika yang ada di bawah secara langsung. Karena terkadang dan ternyata tidak sedikit cerita keberhasilan yang ada di lapangan yang itu bisa menguatkan program program kota Malang, “tutur Walikota yang penyuka makanan “super” pedas ini.
Mengambil waktu waktu diluar jadwal kedinasan dan diluar hari hari kerja tanpa didampingi oleh Perangkat Daerah, menurut pria ramah ini, juga semata dan pada titik tertentu tidak ingin mengganggu jam keluarga dari pimpinan OPD, sekaligus ingin mengetahui sejauh mana program Pemda mau terkoneksi di bawah.
Secara khusus, blusukan dan jagongan ala Sutiaji tersebut, tidak terlepas dari keinginan kuat suami Hj. Widayati dalam menghimpun kekuatan potensi para start up maupun wirausaha muda kota Malang dalam menggerakkan dan memajukan sektor ekonomi kreatif. “Ini adalah contoh konkrit kisah sukses anak muda. Hanya dalam kurun waktu 2 (dua) bulan, Mas Satya yang sebelumnya berjualan kopi dengan berkeliling sepeda dan berpindah pindah, kini telah berhasil mengembalikan modal dan kini bisa meraup keuntungan hingga 4 juta per harinya. Hanya dari sebuah usaha tongkrongan kopi, namun dengan keuletannya mampu berhasil. Dan banyak saya kira di kota Malang, anak anak muda kreatif seperti ini, yang ini akan saya jadikan kekuatan tersendiri, “tegas Sutiaji.
Seperti diketahui, satu diantara garapan pasangan Sutiaji -Sofyan Edi (SAE) dalam 99 hari kerja sekaligus bagian dari target misi 5 (lima) tahun masa bhaktinya adalah penguatan ekonomi kreatif, UMKM naik kelas, penguatan e commerce dan menjadikan sektor jasa kuliner sebagai penopang wisata kota.
Potensi usaha kopi di kota Malang, menurut Sutiaji, sangatlah besar. Karenanya, kita pernah mendeklarasikan “Malang Sejuta Kopi”, itu karena kopi Malang sesungguhnya sangat dikenal dan juga budaya ngopinya sangat kuat.
Ini potensi yang harus digarap, karena pelancong para wisatawan perlu dibuat tertarik dengan cita rasa kopi (malang) atau pun kekhasan sajiannya yang ada di cafe cafe maupun di warung warung tongkrongan yang ada. “Nanti akan jadi garapan ekonomi kreatif, karena ini bagian dari ekonomi kreatif sub gastronomi, yaki seni bagaimana menyiapkan hidangan yang lezat. Dan, untuk menjadikan kopi sebagai kuliner unggulan perlu ada tiga unsur terkait, yaitu food (makanan), culture (budaya), dan story (cerita), itu yang akan kita garap terus, “ujar Sutiaji.
Bahkan secara khusus, Walikota Sutiaji juga bercita, di lingkungan Balaikota juga ada sudut khusus terkait dengan pengembangan sektor gastronomi tersebut. Ini memperhatikan tingkat kunjungan tamu maupun wisatawan ke balaikota sangatlah tinggi.

Posted in: Berita Terbaru, Dokumentasi, Headline

Leave a Comment