Gala Dinner Desain Thinking Camp 2018

Malang-(31/07) Selasa malam digelar penyambutan 57 mahasiswa asing dari 17 negara. Hadir mahasiswa dari Swiss, Singapura, Lithuania, India, Polandia, Rumania, Ukraina, Libya, Korea, China, Jepang, Laos, Vietnam, serta Malaysia. Gala Dinner Desain Thinking Camp 2018 mengusung tema Tasting the Natural and Cultural Heritage of Malang. Acara tersebut terlaksana hasil kerjasama antar Konsorsium Kantor Urusan Internasional Malang Raya dengan Pemerintah Kota Malang yang bertempat di Halaman Balaikota Malang.

Plt Walikota Malang Drs.H Sutiaji, 13 Rektor Perguruan Tinggi Kota Malang, Ketua Konsorsium Kantor Urusan Internasional Malang Raya, Ketua Konsorsium Kantor Urusan Internasional, serta kepala OPD hadir dalam galadinner dengan pemandangan alun-alun tugu Kota Malang.

Acara dibuka dengan tari beskab dan dilanjutkan dengan sambutan ketua KUI Malang Raya Drs. Suparto, M.Pd. Mengawali sambutan Suparto menyampaikan Pada Gala Dinner yang terdiri dari 13 negara dengan corak birokrasi yang berbeda dan penuh dengan dinamika perbedaan jika dicari perbedaannya tak satupun yang sama, akan tetapi hal tersebut bukan menjadi state of mind semangatnya adalah berkumpul untuk membangun sinergisitas dan berbagi budaya. “Teman-teman dengan sinergi berlebih dengan sumberdaya dan pengalaman siap berbagi dengan yang lain dalam sharing education untuk berkontribusi terhadap the progress of Malang maka dari itu harapannya acara ini akan berlanjut ditahun-tahun yang akan datang” paparnya.

Selanjutnya, Rektor Universitas Widyagama Prof.Dr.Ir Iwan Nugroho, M.Sc menyampaikan pentingnya akulturasi budaya. “Kami menggabungkan mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing tujuannya yakni mengenalkan budaya lokal Indonesia. Saya yakin manfaatnya sangat banyak sehingga bisa menjadi agenda kami dimasa yang akan datang yang mana adanya kerjasama antar Perguruan Tinggi dengan Pemerintah Kota Malang “ ujar Iwan.

Plt Walikota Malang Drs.H Sutiaji dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Malang sangat terbuka untuk dapat menjadi laborat bagi Perguruan Tinggi yang mana dapat mengkolaborasikan antara instrumen-instrumen yang ada dan dapat diakumulasikan dalam bentuk kebijakan yang sesuai dengan regulasi. “Maka kami sangat terbuka dengan seluruh Perguruan Tinggi berkaitan dengan masalah-masalah yang membutuhkan problem solving berbasis IT, melalui local wishdom, dan melalui akademik harus selalu dikembangkan secara bagus yang harapannya Malang yang tumbuh dengan slogan dengan satu jiwanya ini kita tidak boleh pandang suku,agama,kulit dan ras” ujar sutiaji

Hal tersebut merupakan sebuah keniscayaan yang menjadi konsep untuk membuat kebijakan yang akan dirasakan oleh seluruh masyarakat. “Sebab Malang merupakan miniatur Indonesia bahkan miniatur dunia ketika Malang dalam situasi yang kondusif melalui salah satu aplikasi dari tim IT yang saya idolakan yaitu aplikasi SAMBAT yang gunanya untuk menerima keresahan masyarakat tentang pelayanan Pemerintah Malang yang mana bisa langsung dipecahkan masalahnya. Mudah-mudahan Malang menjadi barometer dan model mengenai reformasi birokrasinya maupun layananan publik, serta model pendidikan di Kota Malang.” pungkas sutiaji (FH/VD)

Posted in: Berita Terbaru, Dokumentasi, Headline

Leave a Comment