Bordir Malangan Binaan Pemkot, Laku Keras di Tarakan

Perasaan puas diungkapkan Sri Rahayu Rovidi, owner Marsalia Embroidery, home industri yang diikutkan Dinas Perdagangan Kota Malang pada acara pameran produk unggulan kota kota Apeksi di Islamic Center Taman Berkampung Kota Tarakan (24-28 Juli). Ini karena home industri binaan Pemerintah Kota Malang, mampu menarik minat pengunjung untuk membeli produk produknya. “Saya tak menyangka seantusias ini, kemarin kami bawa produk hingga over load bagasi, tapi ternyata masuk hari ke – 2 pameran sudah habis stock, sehingga kami datangkan lagi barang dari Malang, “tutur Sri Rahayu.

Mengandalkan produk produk keseharian seperti mukena, daster, sandal dan dompet, mampu menarik konsumen dan laris manis “bak kacang goreng”. Khususnya daster dengan aksen Malangan sulam hand made menjadi primadona, hingga tercatat putaran omzet sehari mencapai 7-9 juta rupiah.

Ketua TP PKK Kota Malang, Ny. Widayati Sutiaji pada saat mengunjungi stand kota Malang, menyatakan kegamumannya atas produk produk yang ditampilkan home industri kota Malang. “Kata kuncinya adalah memberi sentuhan yang berbeda, unik dan khas. Orang mungkin melihat produk daster menjadi hal biasa dan umum, namun di tangan bu Sri Rahayu dengan galeri Marselia Embroiderynya, ternyata mampu memberi daya tarik serta minat sendiri. Terlebih model hand made sulam bordir pada daster sudah menjadi ciri khas kota Malang dan belum ada di kota Malang, “ujar Widayati. Ditambahkan perempuan murah senyum ini, mengacu pada perjalanan Marselia Embroidery yang berangkat dari usaha kerajinan perorangan dan kini tumbuh kembang dengan 30 pekerja, maka PKK kota Malang akan ikut menopang program Pemkot untuk melakukan pendampingan kepada usaha usaha yang dirintis ibu ibu agar dapat menjadi penopang ekonomi riil.

Seperti dituturkan Sri Rahayu, dirintis tahun 2010 sebagai usaha perorangan, usaha bordir mulai ikut binaan Pemkot Malang tahun 2011. “Dari kesulitan akses dan berkembang, serta dapat info teman untuk berkonsultasi ke Dinas Koperasi Kota Malang di 2011, maka saya berkonsultasi ke sana. Dari situ, kami sering mendapat pendampingan dan diajak pada misi pameran sehingga dapat tumbuh kembang serta dikenal masyarakat, “tutur Sri Rahayu, yang sebelumnya pernah bekerja di salah satu perguruan tinggi di kota Malang.

Bahkan dalam perkembangannya, Marselia Bordir mampu menembus pangsa luar negeri di antaranya Dubai, Turki dan Singapura. “Kalau pasar nusantara secara umum sudah masuk, dan itu dimungkinkan karena selama ini produk produk kami hampir sepenuhnya dipercaya ibu ibu Persit (TNI) dan Bhayangkari (Kepolisian), sehingga membantu kemudahan pemasarannya, “ujar perempuan berjilbab ini. Ditambahkannya, untuk misi eksibisi pameran dagang, Marselia Bordir, dipercaya Inacraft pada pameran dagang di kawasan Asia Tenggara. Yang membanggakan, home industri yang memiliki workshop di jalan Terusan Sudimoro dan galery di Griya Shanta ini, secara langsung dipercaya oleh Ketua TP PKK provinsi Jawa Timur, Nina Soekarwo, dalam ajang fashion.

“Sebagai bentuk kecintaan dan kebanggaan kami terhadap kota Malang, dalam waktu dekat kami akan menggelar “Lenggang Bordir Malangan”, “info Sri Rahayu. Ditengah kegembiraan respon pasar terhadap produknya, Sri Rahayu menyampaikan harapan kepada Pemkot Malang untuk terus mengajak home industri yang ada dalam setiap ajang pameran dagang. Yang berikutnya adalah peningkatan bantuan modal. “Selama ini sudah mendapat dukungan dari perbankan, khususnya BRI. Namun karena permintaan tinggi, produksi tidak mampu mengimbangi karena untuk meningkatkan biaya (modal) produksi, seringkali terkendala jaminan yang terlalu tinggi, “keluhnya.

Wahyu Setianto, Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang, sadar atas permasalahan tersebut. “Memang masalah klasik, namun realitanya demikian. Apalagi bagi UMKM, home industri yang memang berangkat dari usaha perorangan dan rumahan, saat pasar semakin besar sering tak terantisipasi. Ini coba akan kami komunikasikan dengan OPD yang juga bersentuhan dengan sektor ini, untuk dapat ada skema pinjaman permodalan yang familier dan supporting bagi penguatan kelompok kelompok industri rumahan dan UMKM, “ujar Wahyu.

Data di 2017, jumlah industri yang terdata di Kota Malang adalah sebanyak 3.045 dan di antaranya adalah IKM sebanyak 2.905 dan industri menengah ke atas sekitar 140

Posted in: Berita Terbaru, Dokumentasi, Headline

Leave a Comment