Kehadiran Rhenald Kasali Jadi Magnet Tersendiri Bagi Humas Pemerintah

Palembang – Hari ketiga pelaksanaan Bakohumas Tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI, berjalan semakin menarik. Hal tersebut dikarenakan kehadiran narasumber Prof. Rhenald Kasali yang disambut dengan antusias tinggi oleh para Humas Pemerintah dari K/L/D se Indonesia.

Dalam materinya, Rhenald Kasali menyampaikan rasa kekhawatiran atas tumbangnya media konvensional dengan kehadiran media on line, akan menjalar pada bidang jasa lainnya. “Ini sudah terpotret pada industri mall yang mulai gerah juga dengan belanja on line. Dan government pun jangan merasa aman, bisa jadi public service ke depan akan dikuasai oleh layanan berbasis mesin dan robotik, “tegas Guru Besar UI ini.

Pertanyaannya apa semua yang bersifat konvensional akan hilang. Menurut Profesor Kasali, tidak, selama ada kreatifitas dan sharing economic harus didorong. “Konsep owning economic, yakni pola menutup diri terhadap kemitraan dan selalu melihat hal baru sebagai rintangan serta kompetitor, harus beralih pada konsep sharing economic. Contoh yang ada adalah kehadiran taksi on line, maka ini akan menjadi kekuatan ekonomi besar apabila ada kemitraan antara taksi konvensional dengan kemajuan teknologi itu sendiri, “tegas Kasali.

Dihadapan peserta konvensi bakohumas se Indonesia, yang dihelat di Novotel Hotel (21-24 Nop), guru besar UI ini juga mengingatkan bahayanya sosial media, berita hoax dan kebergantungan yang tinggi manusia dengan gadget. “Berdasarkan penelitian, di Indonesia, penduduknya dalam penggunaan gadget mencapai 200 kali sehari, artinya per 3 menit selalu membuka/bermain gadget. Ini masalah, “tegas Prof Kasali. Tingginya kebergantungan terhadap gadget ini pula, yang mengkontribusi berita berita hoax, karena pembuat info hoax sangat memahami daya cernah pembaca sangat rendah dan cenderung langsung menelan info itu menjadi kebenaran.

Informasi yang tidak benar, bila diproduce dan dialirkan secara masive akan menjadi “kebenaran”. Ini yang terjadi di Indonesia saat ini. Oleh Profesor Kasali dicontohkan tentang issue PHK massal pegawai jasa marga (penjaga tol) karena kehadiran e-toll. Lalu informasi atau berita tentang kebijakan pembangunan infrastruktur itu menyusahkan perekonomian dan tidak produktif, serta berita tentang pengelolaan jalan tol yang akan dikuasai Cina hingga issue lambang “PKI” dalam uang rupiah. “Itu semua hoax, tapi karena diviralkan dan digerakkan secara masive, menjadi seakan kebenaran. Ini nggak bagus bagi keberlangsungan bangsa, “tegas Pengamat Ekonomi ini.

Dan atas hal tersebut, para pelaku kehumasan harus siap dan kreatif menghadapi itu semua serta tidak boleh hanya bertindak secara konvensional melalui release atau jumpa pers, tapi juga harus memanfaatkan dunia maya itu sendiri. Imbuh Prof. Kasali menutup classing sesinya.

Posted in: Berita Terbaru, Dokumentasi, Headline

Leave a Comment