OKTOBER 2016, KOTA MALANG DEFLASI 0.20 PERSEN

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Mulai Januari 2014, pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100. Ada beberapa perubahan yang mendasar dalam penghitungan IHK baru (2012=100) dibandingkan IHK lama (2007=100), khususnya mengenai cakupan kota, paket komoditas, dan diagram timbang. Perubahan tersebut didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.

SBH 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar lainnya. Dari 82 kota tersebut, 66 kota merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 merupakan kota baru. Survei ini hanya dilakukan di daerah perkotaan (urban area) dengan total sampel sebanyak 13.608 Blok Sensus dan total sampel rumahtangga sebanyak 136.080. SBH 2012 dilaksanakan secara triwulanan selama tahun 2012 sehingga setiap triwulan terdapat 34.020 sampel rumahtangga.

Paket komoditas kota Malang hasil SBH 2012 terdiri dari 372 komoditas meningkat dibandingkan dengan paket komoditas hasil SBH 2007 sebelumnya yaitu sebanyak 349 komoditas..

Berdasarkan hasil pemantauan BPS kota Malang pada Oktober 2016 terjadi inflasi -0.20 persen, atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 125.14 pada Septemberi 2016 menjadi 125.06 pada Oktober 2016. Tingkat inflasi tahun kalender sebesar 1.58 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2016 terhadap Oktober 2015 ) sebesar 2.65 persen.

Inflasi bulan Oktober 2016 dipicu oleh beberapa komoditi, Cabai merah, tarif listrik, bawang putih, rokok kretek filter, pasir, angkutan udara, pepaya, minyak goreng, tongkol pindang, sewa rumah, dll.

Komoditi yang meghambat inflasi di bulan September 2016 antara lain bawang merah, semen, emas perhiasan, telur ayam ras, kentang, daging ayam ras, tarip pulsa ponsel, apel, selada/ daun selada dan jeruk. dll.

Beberapa komoditas bahan makanan mengalami penurunan harga seperti daging ayam ras, kentang, telur ayam ras karena permintaan sudah mulai normal kembali dibanding bulan kemarin banyak masyarakat yang mempunyai hajat. Harga emas perhiasan juga mengalami penurunan, sehingga menyebabkan kelompok bahan makanan dan sandang mengalami deflasi dan menjadikan kota Malang inflasi sebesar -0.20 persen.

Meningkatnya produksi semen nasional yang lebih tinggi dibandingkan permintaan pasar dan makin ketatnya persaingan industri semen, mengakibatkan turunnya harga semen di pasaran dan menyebabkan kelompok perumahan, listrik, gas dan bahan bakar mengalami deflasi 0.03 persen, selain disumbang oleh kenaikan tarif listrik yang mulai
diberlakukan lagi.

Penyebab terjadinya deflasi bulan Oktober 2016 adalah turunnya indeks harga konsumen secara umum. Dari tujuh kelompok pengeluaran, 4 kelompok mengalami inflasi dan 3 kelompok pengeluaran mengalami deflasi yaitu kelompok bahan makanan -0.97 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0.14 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar -0.03 persen; kelompok sandang -0.64 persen; kelompok kesehatan 0.03 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0.06 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0.01 persen sebagaimana
terlihat pada tabel 1.

tabel1

Kelompok komoditas yang memberikan andil/ sumbangan inflasi pada Oktober 2016, yaitu: kelompok bahan makanan -0.0454 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0.0215 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0.0181 persen; kelompok sandang -0.0031 ; kelompok kesehatan 0.0032, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga, 0.1657 persen; dan kelompok transpor, komunikasi,dan jasa keuangan – 0.1205 persen .

tabel2

gambar 1

URAIAN MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN

1. Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan pada bulan Oktober 2016 mengalami inflasi -0.97 persen atau terjadi penurunan angka indeks dari 136.17 pada September 2016 menjadi 134.85 pada Oktober 2016 .

Dari 11 sub kelompok dalam kelompok bahan makanan 6 sub kelompok mengalami inflasi dan 5 sub kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di sub kelompok ikan diawetkan 2.35 persen, diikuti sub kelompok lemak dan minyak sebesar 0.48 persen, sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 0.22 persen, sub kelompok padi-padian umbi-umbian dan hasilnya sebesar 0.08 persen, sub kelompok kacang-kacangan sebesar 0.07 persen dan sub kelompok bahan makanan lainnya sebesar 0.03 persen.

Sedangkan 5 sub kelompok yang mengalami deflasi adalah sub kelompok sayur-sayuran sebesar 5.84 persen, diikuti sub kelompok ikan segar sebesar 1.95 persen, sub kelompok buah-buahan sebesar 1.95 persen, sub kelompok telur susu dan hasil-hasilnya sebesar 1.83 persen dan sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 0.93 persen,

Kelompok ini pada Oktober 2016 memberikan sumbangan inflasi sebesar -0.1888 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain: cabai merah sebesar 0.0865 persen, bawang putih sebesar 0.0325 persen, pepaya sebesar 0.0172 persen, minyak goreng sebesar 0.0153 persen, tongkol pindang sebesar 0.0152 persen, tauge/ kecambah sebesar 0.0062 persen, susu untuk tulang/ manula sebesar 0.005 persen, ketela pohon sebesar 0.0037 persen, kangkung sebesar 0.0035 persen, sawi hijau sebesar 0.0033 persen, dll.

Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi antara lain : bawang merah sebesar 0.1012 persen, telur ayam ras sebesar 0.0334 persen, kentang sebesar 0.0331 persen, daging ayam ras sebesar 0.0294 persen, apel sebesar 0.0251 persen, selada/ daun selada sebesar 0.0214 persen, jeruk sebesar 0.0189 persen, cabai rawit sebesar 0.0174 persen, wortel sebesar 0.0167 persen, udang basah sebesar 0.0114 persen, dll.

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

Kelompok ini pada Oktober 2016 mengalami inflasi 0.14 persen atau terjadi kenaikan angka indeks dari 125.93 pada September 2016 menjadi 126.11 pada Oktober 2016 .

Tiga sub kelompok yang ada dalam kelompok ini 2 sub kelompok mengalami inflasi dan 1 sub kelompok mengalami deflasi. Inflasi terjadi pada sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol sebesar 1.08 persen diikuti sub kelompok makanan jadi sebesar 0.03 persen sedangkan sub kelompok minuman yang tidak beralkohol mengalami deflasi sebesar 0.42 persen.

Kelompok ini pada Oktober 2016 secara keseluruhan memberikan sumbangan inflasi terbesar sebesar 0.0231 persen.

Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain : rokok kretek filter sebesar 0.0255 persen, rokok putih sebesar 0.005 persen, rokok kretek sebesar 0.0036 persen, selai/ jam sebesar 0.0019 persen, martabak sebesar 0.0014 persen, air kemasan sebesar 0.0008 persen, roti tawar, kopi bubuk dan minuman kesegaran sebesar 0.0001 persen, dll.

Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi turunnya harga gula pasir sebesar 0.0153 persen dan sirop sebesar 0.0001 persen.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar

Kelompok ini pada Oktober 2016 mengalami inflasi sebesar -0.03 persen, atau terjadi penurunan angka indeks dari 118.47 pada bulan September 2016 menjadi 118.44 pada Oktober 2016 .

Dari 4 sub kelompok dalam kelompok ini 3 sub kelompok mengalami inflasi dan 1 sub kelompok mengalami deflasi . Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air sebasar 0.66 persen diikuti sub kelompok perlengkapan rumah tangga sebesar 0.29 persen dan sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0.02 persen. Sedangkan sub kelompok yang mengalami deflasi adalah sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 0.31 persen.

Pada Oktober 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar -0.0049 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain adalah tarip listrik sebesar 0.0337 persen, pasir sebesar 0.0204 persen, sewa rumah sebesar 0.0088 persen, tempat tidur sebesar 0.0017 persen, lemari pakaian sebesar 0.0014 persen, meja kursi tamu sebesar 0.0006 persen, sabun detergent bubuk/ cair sebesar 0.0752 persen, dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi adalah turunnya indeks harga semen 0.0325 persen . pembasmi nyamuk bakar sebesar 0.0002 persen, dll.

4. S a n d a n g

Kelompok sandang pada Oktober 2016 mengalami inflasi – 0.64 persen, atau terjadi penurunan angka indeks dari 115.14 pada September 2016 menjadi 114.40 pada Oktober 2016.

Dari 4 sub kelompok dalam kelompok ini, 3 sub kelompok mengalami inflasi dan 1 sub kelompok tidak mengalami deflasi. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok sandang wanita sebesar 0.52 persen diikuti sub kelompok sandang laki-laki sebesar 0.19 persen dan sub kelompok sandang anak-anak sebesar 0.18 persen. Sedangkan sub kelompok barang pribadi dan sandang lain mengalami deflasi sebesar 3.34 persen .

Pada Oktober 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar -0.0356 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah naiknya indeks harga pembalut wanita sebesar 0.0069 persen, seragam sekolah anak sebesar 0.0015 persen, sarung katun sebesar 0.001 persen, celana dalam pria dan celana panjang jeans sebesar 0.0007 persen, seragam sekolah wanita sebesar 0.0007 persen, baju batik, dan baju kaos berkerah sebesar 0.0004 persen, celana dalam wanita sebesar 0.0003 persen, dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi emas perhiasan sebesar 0.0488 persen, .

5. K e s e h a t a n

Kelompok kesehatan pada Oktober 2016 mengalami inflasi 0.03 persen, atau mengalami kenaikan angka indeks 115.07 pada bulan September 2016 menjadi 115.10 pada Oktober 2016 .

Dari 4 sub kelompok 1 sub kelompok mengalami inflasi , 1 sub kelompok mengalami deflasi dan 2 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika sebesar 0.18 persen dan sub kelompok yang mengalami deflasi adalah sub kelompok obat obatan sebesar 0.18 persen sedangkan sub kelompok jasa kesehatan dan sub kelompok jasa perawatan jasmani tidak mengalami perubahan angka indeks.

Pada Oktober 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.0013 persen. Sedangkan komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah naiknya indeks harga alas bedak sebesar 0.0016 persen, bedak sebesar 0.0013 persen, obat sakit kepala, parfum dan pembersih/ penyegar sebesar 0.001 persen, lipstik, sabun mandi sebesar 0.0003 persen, dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi shampoo sebesar 0.0012 persen, dll.

6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada Oktober 2016 mengalami inflasi sebesar 0.06 persen atau mengalami kenaikan angka indeks dari 125.85 pada September 2016 menjadi 125.92 pada Oktober 2016.

Dari 5 sub kelompok , 4 sub kelompok mengalami inflasi, dan 1 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok olah raga sebesar 0.45 persen diikuti sub kelompok perlengkapan / peralatan pendidikan sebesar 0.14 persen ,sub kelompok sub kelompok rekreasi sebesar 0.09 persen, dan sub kelompok pendidikan sebesar 0.02 persen, sedangkan dan sub kelompok kursus-kursus / pelatihan tidak mengalami perubahan angka indeks.

Pada Oktober 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.0061 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi adalah naiknya indeks harga modem internet sebesar 0.0015 persen, kelompok bermain sebesar 0.0014 persen, sepeda anak sebesar 0.0012 persen, pensil hitam sebesar 0.0009 persen, kamera sebesar 0.0008 persen, sepatu olah raga pria sebesar 0.0007 persen, dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi turunnya indeks harga flash disk sebesar 0.0003 persen , dll.

7. Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan
Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada Oktober 2016 mengalami inflasi 0.01 persen atau terjadi penurunan angka indeks dari 130.75 pada September 2016 menjadi 129.94 pada Oktober 2016.

Dari 4 sub kelompok dalam kelompok ini 2 sub kelompok mengalami inflasi , 1 sub kelompok mengalami deflasi dan 1 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Yang mengalami inflasi adalah sub kelompok sarana dan penunjang transport sebesar 0.36 persen dan sub kelompok Transpor sebesar 0.19 persen. Yang mengalami deflasi adalah sub kelompok komunikasi dan pengiriman sebesar 0.83 persen . Sedangkan sub kelompok jasa keuangan tidak mengalami perubahan angka indeks.

Secara keseluruhan kelompok ini pada Oktober 2016 memberikan sumbangan inflasi 0.002 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah naiknya indeks harga angkutan udara sebesar 0.0203 persen, sepeda motor sebesar 0.0058 persen, cuci kendaraan sebesar 0.0047 persen, helm sebesar 0.0019 persen, dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi adalah turunnya indeks tarip pulsa ponsel sebesar 0.0291 persen dan tarip kereta api 0.0016 persen.

Posted in: Berita Terbaru, Dokumentasi, Headline

Leave a Comment