SEPTEMBER 2016, KOTA MALANG INFLASI 0.17 PERSEN

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Mulai Januari 2014, pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100. Ada beberapa perubahan yang mendasar dalam penghitungan IHK baru (2012=100) dibandingkan IHK lama (2007=100), khususnya mengenai cakupan kota, paket komoditas, dan diagram timbang. Perubahan tersebut didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.

SBH 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar lainnya. Dari 82 kota tersebut, 66 kota merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 merupakan kota baru. Survei ini hanya dilakukan di daerah perkotaan (urban area) dengan total sampel sebanyak 13.608 Blok Sensus dan total sampel rumahtangga sebanyak 136.080. SBH 2012 dilaksanakan secara triwulanan selama tahun 2012 sehingga setiap triwulan terdapat 34.020 sampel rumahtangga.

Paket komoditas kota Malang hasil SBH 2012 terdiri dari 372 komoditas meningkat dibandingkan dengan paket komoditas hasil SBH 2007 sebelumnya yaitu sebanyak 349 komoditas.

Berdasarkan hasil pemantauan BPS kota Malang pada September 2016 terjadi inflasi 0.17 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 125.14 pada Agustusi 2016 menjadi 125.31 pada September 2016. Tingkat inflasi tahun kalender sebesar 1.78 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2016 terhadap September 2015 ) sebesar 2.89 persen.

Inflasi bulan September 2016 dipicu oleh beberapa komoditi, antara lain Tarip Tarip Akademi/ Perguruan Tinggi, bawang merah, bawang putih, kelapa, tarip pulsa ponsel, cabai merah, biaya jaringan saluran TV, batu bata/ batu tela, mobil, rokok kretek.. Tarip uang Akademi/ Perguruan Tinggi mendominasi sumbangan andil inflasi bulan ini, seiring dengan musim tahun ajaran baru. Musim ajaran baru bagi mahasiswa pada bulan Agustus-September 2016 menyebabkan kenaikan biaya perguruan tinggi, tingkat akademi dan perguruan tinggi. Kenaikan biaya Akademi/ Perguruan Tinggi, menyumbang inflasi tertinggi sebesar 0.31 persen.

Komoditi yang meghambat inflasi di bulan Agustus 2016 antara lain Angkutan udara, telur ayam ras, beras, semen, daging ayam ras, pepaya, cabai rawit, pisang, tongkol pindang, gula pasir, wortel, dll.

Tarip angkutan udara mengalami penurunan. Penurunan tarif angkutan menjadikan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi, dan secara keseluruhan menghambat laju inflasi bulan ini.

Beberapa komoditas bahan makanan mengalami kenaikan harga karena musim hujan sudah mulai datang dan permintaan meningkat karena bulan besar banyak masyarakat yang mempunyai hajat. Dua kelompok tersebut menjadikan kota Malang inflasi sebesar 0.17 persen.

Meningkatnya produksi semen nasional yang lebih tinggi dibandingkan permintaan pasar dan makin ketatnya persaingan industri semen, mengakibatkan turunnya harga semen di pasaran.

Penyebab terjadinya deflasi bulan September 2016 adalah turunnya indeks harga konsumen secara umum. Dari tujuh kelompok pengeluaran, 4 kelompok mengalami deflasi dan 3 kelompok pengeluaran mengalami inflasi yaitu kelompok bahan makanan -0.26 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0.13 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar -0.07 persen; kelompok sandang -0.05 persen; kelompok kesehatan 0.07 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 3.36 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan -0.63 persen.. sebagaimana terlihat pada tabel 1.

TABEL 1 YANG BARU

Kelompok komoditas yang memberikan andil/ sumbangan inflasi pada September 2016, yaitu: kelompok bahan makanan -0.0454 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0.0215 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0.0181 persen; kelompok sandang -0.0031 ; kelompok kesehatan 0.0032, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga, 0.1657 persen; dan kelompok transpor, komunikasi,dan
jasa keuangan – 0.1205 persen.

tabel 2 gambar 1

URAIAN MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN

1. Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan pada bulan September 2016 mengalami inflasi – 0.26 persen atau terjadi penurunan angka indeks dari 136.52 pada Agustus 2016 menjadi 136.17 pada September 2016 .

Dari 11 sub kelompok dalam kelompok bahan makanan 2 sub kelompok mengalami inflasi dan 9 sub kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 5.41 persen diikuti sub kelompok lemak dan minyak sebesar 3.96 persen.

Sedangkan 9 sub kelompok yang mengalami deflasi adalah, sub kelompok buah-buahan sebesar 3.49 persen diikuti sub kelompok ikan diawetkan 2.53 persen, sub kelompok telur susu dan hasil-hasilnya sebesar 2.07 persen , sub kelompok sayur-sayuran sebesar 1.58 persen, sub kelompok ikan segar sebesar 1.50 persen, sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 5.17 persen, sub kelompok bahan makanan lainnya sebesar 0.31 persen, sub kelompok padi-padian umbi-umbian dan hasilnya sebesar 0.07 persen, sub kelompok kacang-kacangan sebesar 0.06 persen.

Kelompok ini pada September 2016 memberikan sumbangan inflasi sebesar -0.0454 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain: bawang merah sebesar 0.0625 persen, bawang putih sebesar 0.0442 persen, kelapa sebesar 0.428 persen, cabai merah sebesar 0.0296 persen, ketimun sebesar 0.0092 persen, kepiting/ rajungan sebesar 0.0043 persen, minyak goreng sebesar 0.0042 persen,, daging sapi sebesar 0.0041 persen, hati sapi sebesar 0.0032 persen, jagung manis sebesar 0.0022 persen, dll.

Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi antara lain : telur ayam ras sebesar 0.0451 persen, daging ayam ras sebesar 0.0293 persen, pepaya sebesar 0.0275 persen, cabai rawit sebesar 0.0252 persen, pisang sebesar 0.0238 persen, tongkol pindang sebesar 0.0177 persen, wortel sebesar 0.0138 persen, mujair sebesar 0.0103 persen, pir sebesar 0,0089 persen. apel sebesar 0.0072 persen, cumi-cumi sebesar 0.0063 persen, dll.

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Kelompok ini pada September 2016 mengalami inflasi 0.13 persen atau terjadi kenaikan angka indeks dari 125.77 pada Agustus 2016 menjadi 125.93 pada September 2016 .

Tiga sub kelompok yang ada dalam kelompok ini 2 sub kelompok mengalami inflasi dan 1 sub kelompok mengalami deflasi. Inflasi terjadi pada sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol sebesar 0.57 persen diikuti sub kelompok makanan jadi sebesar 0.14 persen sedangkan sub kelompok minuman yang tidak beralkohol mengalami deflasi sebesar 0.31 persen.

Kelompok ini pada September 2016 secara keseluruhan memberikan sumbangan inflasi terbesar sebesar 0.0215 persen.

Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain : rokok kretek sebesar 0.0093 persen, kue kering berminyak sebesar 0.0069 persen, rokok kretek filter sebesar 0.0062 persen, roti manis sebesar 0.0061 persen, air kemasan sebesar 0.0043 persen, rokok putih sebesar 0.0023 persen, martabak sebesar 0.001 persen, dan kue kering sebesar 0.0002 persen, dll.

Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi turunnya harga gula pasir sebesar 0.0148 persen.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar
Kelompok ini pada September 2016 mengalami inflasi sebesar -0.07 persen, atau terjadi penurunan angka indeks dari 118.55 pada bulan Agustus 2016 menjadi 118.47 pada September 2016 .

Dari 4 sub kelompok dalam kelompok ini 3 sub kelompok mengalami inflasi dan 1 sub kelompok mengalami deflasi sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air sebasar 0.16 persen diikuti sub kelompok perlengkapan rumah tangga sebesar 0.03 persen dan sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0.02 persen. Sedangkan sub kelompok yang mengalami deflasi adalah sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 0.18 persen.

Pada September 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar -0.0181 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain adalah batu bata/ batu tela sebesar 0.0164 persen, tarip listrik sebesar 0.073 persen, blender sebesar 0.0012 persen, setrika sebesar 0.0005 persen, batu baterey sebesar 0.0003 persen, lampu TL/ Neon/ PL/ XL dan tissue sebesar 0.0002 persen, magic com sebesar 0.0001 persen, sabun detergent bubuk/ cair sebesar 0.0001 persen, dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi adalah turunnya indeks harga semen 0.0325 persen . besi beton sebesar 0.0106 persen, dll.

4. S a n d a n g
Kelompok sandang pada September 2016 mengalami inflasi – 0.05 persen, atau terjadi penurunan angka indeks dari 115.20 pada Agustus 2016 menjadi 115.14 pada September 2016.

Dari 4 sub kelompok dalam kelompok ini, 3 sub kelompok mengalami inflasi dan 1 sub kelompok tidak mengalami deflasi. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok sandang anak-anak sebesar 0.34 persen diikuti sub kelompok sandang wanita sebesar 0.08 persen dan sub kelompok sandang laki-laki sebesar 0.04 persen. Sedangkan sub kelompok barang pribadi dan sandang lain mengalami deflasi sebesar 0.62 persen .

Pada September 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar -0.0031 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah naiknya indeks harga baju kaos berkerah anak sebesar 0.0029 persen, handuk sebesar 0.0017 persen, kerudung/ jilbab sebesar 0.0015 persen, sepatu sebesar 0.0012 persen, ongkos jahit sebesar 0.001 persen, celana panjang jeans sebesar 0.0005 persen, celana dalam pria sebesar 0.0004 persen, dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi emas perhiasan sebesar 0.0134 persen,

5. K e s e h a t a n
Kelompok kesehatan pada September 2016 mengalami inflasi 0.07 persen, atau mengalami kenaikan angka indeks 114.99 pada bulan Agustus 2016 menjadi 115.07 pada September 2016 .

Dari 4 sub kelompok 3 sub kelompok mengalami inflasi dan 1 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok jasa kesehatan sebesar 0.14 persen diikuti sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika sebesar 0.04 persen dan sub kelompok obat obatan sebesar 0.01 persen sedangkan sub kelompok jasa perawatan jasmani tidak mengalami perubahan angka indeks.

Pada September 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.0032 persen. Sedangkan komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah naiknya indeks harga ongkos bidan sebesar 0.0018 persen, biaya untuk KB sebesar 0.0007 persen, pasta gigi sebesar 0.0002 persen, sabun mandi, sabun wajah sebesar 0.0002 persen, obat flu sebesar 0.0001 persen, dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi tidak ada.

6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada September 2016 mengalami inflasi sebesar 3.36 persen atau mengalami kenaikan angka indeks dari 121.76 pada Agustus 2016 menjadi 125.85 pada September 2016.

Dari 5 sub kelompok , 4 sub kelompok mengalami inflasi, dan 1 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok pendidikan sebesar 5.80 persen, diikuti sub kelompok sub kelompok rekreasi sebesar 0.66 persen, sub kelompok kursus-kursus / pelatihan sebesar 0.39 persen, dan sub kelompok perlengkapan / peralatan pendidikan sebesar 0.01 persen sedangkan dan sub kelompok olah raga tidak mengalami perubahan angka indeks.

Pada September 2016 kelompok ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.3285 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi adalah naiknya indeks harga tarip Akademi/ Perguruan Tinggi sebesar 0.3122 persen, biaya jaringan saluran TV sebesar 0.0173 persen, kursus komputer sebesar 0.0023 persen, kursus bahasa asing sebesar 0.0004 persen, kertas HVS sebesar 0.0001 persen, , dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi turunnya indeks harga televisi berwarna sebesar 0.002 persen, flash disk sebesar 0.0012 persen dan VCD/ DVD Player sebesar 0.0006 persen.

7. Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan
Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada September 2016 mengalami inflasi -1.34 persen atau terjadi kenaikan angka indeks dari 132.52 pada Agustus 2016 menjadi 130.75 pada September 2016.

Dari 4 sub kelompok dalam kelompok ini 2 sub kelompok mengalami inflasi , 1 sub kelompok mengalami deflasi dan 1 sub kelompok tidak mengalami perubahan angka indeks. Yang mengalami inflasi adalah sub kelompok komunikasi dan pengiriman sebesar 0.89 persen dan sub kelompok sarana dan penunjang transport sebesar 0.03 persen. Yang mengalami deflasi adalah sub kelompok Transpor sebesar 1.12 persen .Sedangkan, dan sub kelompok jasa keuangan tidak mengalami perubahan angka indeks.

Secara keseluruhan kelompok ini pada September 2016 memberikan sumbangan inflasi -0.1205 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah naiknya indeks harga tarip pulsa ponsel sebesar 0.0364 persen, mobil sebesar 0.0096 persen, tarip kereta api sebesar 0.0012 persen, ban luar motor sebesar 0.0004 persen, ban luar mobil sebesar 0.0001 persen, dll.

Sedangkan yang memberikan sumbangan deflasi adalah turunnya indeks harga angkutan udara sebesar 0.1628 persen, telepon seluler sebesar 0.0056 persen.

Posted in: Berita Terbaru, Dokumentasi, Headline

Leave a Comment