“Bottom-up”, Kunci Percepatan Ekonomi Kreatif

ICCC2016-Fenomena pemimpin daerah yang inovatif dan kreatif seperti Ridwan Kamil di Bandung, Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi dan Dedi Mulyadi di Purwakarta, menunjukkan bahwa pola pengembangan ekosistem ekonomi kreatif meniscayakan harus dijalankan dan dikembangkan terlebih dahulu dari  masing-masing daerah. Sementara pemerintah pusat, pada akhirnya ditempatkan sebagai fasilitator untuk memastikan kreativitas setiap daerah tersebut berkelanjutan.

Untuk itulah, keberadaan jejaring kota kreatif menjadi sangat signifikan dalam mengembangkan kota-kabupaten kreatif di seluruh Indonesia. Seperti diketahui, Jejaring Kabupaten-kota Kreatif Indonesia atau ICCN, Indonesia  Creative Cities Network) dibentuk pada 25 Oktober 2015 yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan di masing masing kabupaten-kota seperti birokrat, komunitas dan akademisi  untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif di tingkat nasional.

“betul betul harus ada kerja sama dari akademisi, dari komunitas, dari pengusaha dan dari pemerintah. Tapi Pemerintah saya taruh di belakang, karena yang harus dihidupkan adalah semangat-semangat dari bawah, bottom up,” ujar Ketua Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.       Rumus pengembangan kreativitas dari bawah tersebut didapatkannya, setelah melakukan kunjungan ke berbagai negara, termasuk saat diskusi di National University of Singapore (NUS), Selasa (15/3) lalu. Triawan mengaku akan kesulitan jika sendaianya negara memimpin langsung untuk mendongkrak kreativitas masing-masing wilayah kota- kabupaten di seluruh Indonesia.

“Kita harus mepunyai konsep-konsep baru di Indonesia. Tidak bisa kita hanya tiru-tiru begitu saja. Harus ada penyesuaian konsep. Tapi ini (jejaring kota-kabupaten kreatif, red) sudah tepat,” ujarnya. Semangat mendongkrak kreativitas dari masing-masing daerah ini diamini oleh ketua Indonesia Creative Cities Conference 2016, Liliek Setiawan. Oleh karena itu, Liliek menyebutkan bahwa kegiatan konferensi kota kreatif akan terus diselengarakan secara berkala agar percepatan pembangunan ekonomi kreatif bisa segera terwujud di seluruh Indonesia seperti yang diharapkan oleh Presiden Jokowi dimana ekonomi kreatif diharapkan menjadi tulang punggung perekonomian nusantara.  “Kami berharap melalui ICCC yang di Malang nanti (30 Maret sd 5 April, red), tujuan utama kami adalah melahirkan buku panduan Kota Kreatif Indonesia. Itu yang memang sedang saat ini kita godok dan selalu kita gagas untuk selesai, kita tuntaskan. Karena memang tidak semuanya yang dari luar negeri itu bisa langsung diaplikasikan. Jadi kita memang harus mencari nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang bisa membumi dan bisa diterapkan sesuai dengan kondisi di tanah air,” ujarnya.

Liliek mengharapkan lahirnya buku panduan kota kreatif Indonesia dari penyelenggaraan ICCC 2016 akhir bulan nanti juga akan dihadiahkan sebagai kado ulang tahun kota Malang yang ke 102 pada 1 April nanti. (*)

Posted in: Berita Terbaru, Headline

Leave a Comment