PERBANDINGAN INFLASI 8 KOTA DI JAWA TIMUR PERBANDINGAN 8 KOTA DI JAWA TIMUR, JAWA TIMUR DAN NASIONAL

Pada bulan Desember 2015 kota Malang mengalami inflasi 0.89 persen dibandingkan dengan 7 kota lainnya di Jawa Timur. Dari 8 kota IHK di Jawa Timur semua kota mengalami inflasi (lihat tabel 4).

Tabel 4

Perbandingan Indeks dan Inflasi Desember 2015

8 Kota IHK di Jawa Timur , Jawa Timur dan Nasional (2012=100)

Kota IHK   Desember 2015 % perub thd November

2015

Tahun Kalender Y o Y
[1] [5] [6] [7] [8]
JEMBER 120,24 0,39 2,31 2,31
BANYUWANGI 120,20 0,80 2,15 2,15
SUMENEP 120,37 0,77 2,62 2,62
KEDIRI 120,99 0,79 1,71 1,71
MALANG 123,12 0,89 3,32 3,32
PROBOLINGGO 121,23 0,41 2,11 2,11
MADIUN 120,04 0,59 2,75 2,75
SURABAYA 121,85 0,94 3,43 3,43
JAWA TIMUR 121.37 0.85 3.08 3.08
NASIONAL 122.99 0.96 3.35 3.35

 

 

 

 

 

 

Inflasi Sepanjang Tahun 2015

 

Inflasi tahunan Kota Malang pada tahun 2015 sebesar 3,32 persen. Pada tabel 1 dapat diamati bahwa selama tahun 2015 dari tujuh kelompok pengeluaran, enam kelompok pengeluaran mendorong terjadinya inflasi dan satu kelompok pengeluaran menghambat terjadinya inflasi. Kelompok pengeluaran yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,94 persen, diikuti kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,81 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0.75 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,70 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,17 persen, dan kelompok sandang sebesar 0,08 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,11 persen.

Kelompok Pengeluaran Andil Inflasi 2015

(%)

(1) (2)
                 U M U M 3.32
1.      Bahan Makanan 0.94
2.      Makanan Jadi, Minuman, Rokok,dan Tembakau 0,75
3.      Perumahan, Air, Listrik, Gas,dan Bahan Bakar 0,70
4.      Sandang 0.08
5.      Kesehatan 0,17
6.      Pendidikan, Rekreasi,dan Olahraga 0,81
7.      Transpor, Komunikasi,dan Jasa Keuangan                                   -0.11

 

 

 

Komoditi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap terjadinya inflasi sepanjang tahun 2015 adalah Angkutan Udara, Akademi/ perguruan tinggi, beras, Bahan bakar rumah tangga, sekolah Dasar, rokok kretek filter, rokok kretek, daging ayam ras, bawang putih,, tarip kereta api, dll. Musim kemarau yang berkepanjangan akibat fenomena iklim El Nino, erupsi Gunung Raung pada bulan Juli 2015 serta faktor psikologis pasar akibat adanya berita kekeringan tersebut, membuat berkurangnya pasokan komoditi padi, palawija, dan hortikultura dan naiknya harga komoditi tersebut di pasaran.

Kebijakan pemerintah tentang tarif kereta api, tarif listrik, cukai rokok, dan angkutan udara membuat komoditi tersebut mengalami kenaikan harga dan memberikan sumbangan terhadap terjadinya inflasi. Tarif kereta api mengalami kenaikan setelah pengalihan subsidi untuk kereta api (KA) ekonomi jarak jauh dan jarak sedang ke kereta api lokal dan commuter. Berdasarkan keputusan Menteri Perhubungan No. PM. 17 Tahun 2015, per 1 April 2015 tarif kereta api kelas ekonomi jarak sedang dan jarak jauh mengalami penyesuaian. Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, perubahan margin dalam perhitungan biaya operasional KA ekonomi yang semula 8 persen menjadi 10 persen, fluktuasi kurs dolar Amerika Serikat terhadap mata uang rupiah yang mempengaruhi biaya perawatan kereta api (90% suku cadang kereta api merupakan barang impor), merupakan faktor utama perlunya dilakukan penyesuaian tarif kereta api kelas ekonomi.

Pada tahun 2015, PT PLN mulai menerapkan tarif adjustment untuk seluruh golongan pelanggan komersial atau non subsidi. Tarif adjustment diberlakukan setiap bulan, menyesuaikan perubahan nilai tukar mata uang dollar Amerika terhadap mata uang rupiah, harga minyak dan inflasi bulanan.

Kenaikan tarif angkutan udara sebagai dampak langsung diberlakukannya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 Tahun 2014 yang mengatur tarif batas bawah angkutan udara sekurang-kurangnya sebesar 40% dari tarif batas atas. Sedangkan pemicu kenaikan harga rokok kretek dan rokok kretek filter adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 198/PMK.10/2015 tanggal 6 November tentang Perubahan Kedua PMK 179/PMK.011/2012 Tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau yang memastikan tarif cukai rokok mengalami kenaikan rata-rata 11,19 persen mulai 1 Januari 2016.

Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap terjadinya deflasi sepanjang tahun 2015 adalah bensin, cabai rawit, cabai merah, minyak goreng, semen, angkutan dalam kota, batu bata/batu tela, solar, besi beton, dan emas perhiasan. Penurunan harga minyak dunia mendasari pemerintah unutk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Pada bulan Januari 2015, terjadi dua kali penurunan harga BBM yaitu tanggal 1 Januari 2015 dan 19 Januari 2015. Meskipun selama bulan Maret 2015 BBM mengalami tiga kali kenaikan harga yaitu pada tanggal 1, 15, dan 28 Maret tetapi penurunan harga BBM untuk bensin jenis Pertamax, Pertamax Plus, Solar, dan Pertamina dex pada bulan September-Desember 2015, mampu mengendalikan harga BBM dan memberikan sumbangan terhadap terjadinya deflasi.

Kebijakan menurunkan harga semen yang diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara sebesar Rp. 3.000 per zak, mampu mengendalikan harga semen sepanjang tahun 2015. Komoditi minyak goreng mengalami penurunan harga akibat turunnya harga minyak kelapa sawit, dikarenakan cadangan yang menumpuk di negara-negara produsen, termasuk Indonesia. Turunnya harga minyak kelapa sawit akibat anjloknya harga minyak bumi yang memotong daya tarik minyak goreng sebagai biofuel/biodiesel.

Sepanjang tahun 2015, komoditi emas perhiasan mengalami fluktuasi harga. Penilaian masyarakat bahwa emas merupakan barang yang bagus untuk dijadikan investasi terutama di saat terjadi pelemahan ekonomi, tidak mampu mengimbangi menguatnya dolar AS terhadap mata uang dunia. Spekulasi tentang kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed Amerika Serikat merupakan salah satu pemicu jatuhnya harga emas dunia. Pelemahan ekonomi yang terjadi juga menyebabkan berkurangnya permintaan komoditi batu bata/batu tela dan besi beton.

Berikut penyumbang Inflasi selama tahun 2015 :

Andil Inflasi selama Tahun 2015  
 
1 ANGKUTAN UDARA 23,6613   0,6102  
2 AKADEMI/PERGURUAN TINGGI 16,8000   0,3500  
3 BERAS 6,0561   0,2189  
4 BAHAN BAKAR RUMAH TANGGA 12,0928   0,2015  
5 SEKOLAH DASAR 23,9300   0,1713  
6 ROKOK KRETEK FILTER 9,3525   0,1501  
7 ROKOK KRETEK 15,6491   0,1445  
8 DAGING AYAM RAS 12,3790   0,1316  
9 BAWANG PUTIH 55,1118   0,1265  
10 TARIP KERETA API 41,1210   0,1257  
 
Andil Deflasi selama Tahun 2015
1 BENSIN -13,1194   -0,7951
2 ANGKUTAN DALAM KOTA -12,4781   -0,3037
3 CABAI RAWIT -67,4724   -0,2082
4 SEMEN -6,0666   -0,1649
5 CABAI MERAH -19,5268   -0,0979
6 MINYAK GORENG -10,1499   -0,0929
7 EMAS PERHIASAN -6,3109   -0,0571
8 BAYAM -46,5084   -0,0334
9 BESI BETON -6,5168   -0,0221
10 KANGKUNG -26,6222   -0,0164

 

Posted in: Berita Terbaru, Headline

Comments are closed.